in

Ternyata Beginilah Sejarah Kelam Tes IQ

Kita sudah sering mendengar tentang tes IQ. Biasanya kita banyak menjumpainya di seleksi-seleksi. Entah itu seleksi di sekolah, kuliah, kerja, dan sebagainya. Begitu lumrahnya tes IQ hadir di kehidupan kita sehari-hari. Namun, ternyata tes IQ menyimpan sejarah kelam. Bagaimana ceritanya? Simak penjelasannya di bawah ini.

Awal Mula Munculnya Tes IQ

Alfred Binet Tes Iq

Pada tahun 1905, psikolog Alfred Binet dan Theodore Simon merancang sebuah tes untuk anak-anak yang kesusahan mengikuti pelajaran di sekolah. Tes ini dibuat untuk menentukan anak yang mana yang membutuhkan perhatian khusus di kelas. Inilah yang menjadi cikal bakal dari tes IQ.

Dimulai pada akhir abad 19, para peneliti menduga bahwa kemampuan kognitif seperti penalaran verbal, kemampuan mengingat, dan kemampuan memahami informasi di sekitar secara visual, menjadi dasar dari kecerdasan secara umum, yang disebut faktor G.

Simon dan Binet merancang banyak tes untuk mengukur kemampuan-kemampuan tersebut, dan menyatukan hasilnya dalam sebuah nilai angka.

Pertanyaan-pertanyaan ditanyakan kepada beberapa anak yang dikelompokkan berdasarkan umur. Nilai tes seorang anak menunjukkan bagaimana kemampuannya dibandingkan dengan anak lain yang sebaya.

Nilai yang mereka peroleh dari tes tersebut dibagikan dengan umur mereka, lalu dikalikan 100, sama dengan nilai tingkat kecerdasan mereka. Skor ini kemudian disebut Intelligence Quotient (IQ).

Hari ini, IQ 100 menunjukkan rata-rata dari sebuah populasi sampel. 68% dari populasi tersebut memiliki IQ kurang lebih 15 poin dari 100.

Simon dan Binet berpikir bahwa tes ini dapat menguji faktor G anak. Namun dari dulu hingga sekarang, tidak ada definisi yang disetujui untuk kecerdasan secara umum atau yang disebut faktor G ini.

Penyalahgunaan Tes IQ di Berbagai Bidang

Holocaust Tes Iq

Parahnya, hal ini membuat orang-orang atau insttusi-institusi menggunakan tes IQ sebagai tes untuk menguji kecerdasan, terserah apapun definisi kecerdasan yang mereka pahami.

Sesuatu yang awalnya ditujukan untuk menentukan murid yang membutuhkan pertolongan akademis di sekolah, kini menjadi alat untuk mengelompokkan orang-orang dengan cara yang tidak tepat. Bahkan untuk mencapai tujuan dari ideologi yang cacat.

Salah satu implementasi tes IQ berskala besar pertama diadakan di Amerika Serikat saat Perang Dunia I. Saat itu, instansi militer menggunakan tes IQ untuk menyeleksi calon prajurit.

Di masa itu, banyak orang percaya pada egenetika, gagasan dimana setiap sifat atau ciri seseorang seharusnya dikendalikan dengan pembiakan selektif, atau bahasa awamnya memperbaiki keturunan dengan memilih-milih pasangan.

Banyak sekali masalah yang timbul dari fenomena ini. Dari yang mereka pahami saat itu, tingkat kecerdasan tidak hanya konstan dan diwariskan, tetapi juga berhubungan dengan ras seseorang.

Karena pengaruh paham egentika, para ilmwan menggunakan hasil tes calon prajurit militer untuk membuat klaim yang keliru bahwa ras tertentu jauh lebih cerdas dari ras yang lain. Padahal banyak calon prajurit yang mengikuti tes adalah imigran baru di Amerika Serikat. Mereka tidak mendapatkan pendidikan layak di tempat asalnya dan tidak terbiasa dengan bahasa Inggris. Mereka membuat sebuah hirarki kecerdasan yang keliru berdasarkan kelompok ras.

Perpaduan antara tes IQ dan egenetika ini tidak hanya mempengaruhi ranah sains, tapi juga hukum. Pada tahun 1924, negara bagian Virginia membuat sebuah aturan yang mengharuskan oranga yang ber-IQ rendah untuk disterilisasi atau dimandulkan. Keputusan ini disetujui oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Bahkan di masa Nazi Jerman, pemerintah mengizinkan pembunuhan terhadap anak yang ber-IQ rendah.

Akhirnya Masyarakat Dunia Mulai Sadar

Ham Tes Iq

Setelah kejadian Holocaust dan munculnya gerakan-gerakan HAM, penggunaan tes IQ yang diskriminatif diperdebatkan baik di bidang moral maupun sains. Para ilmuwan mulai mengumpulkan bukti tentang dampak tes IQ terhadap lingkungan.

Sebagai contoh, karena tes IQ dikalibrasi terus-menerus sepanjang abad 20, anak-anak generasi baru yang terus bermunculan memperoleh skor yang jauh lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Fenomena ini dikenal sebagai Efek Flynn. Hal ini terjadi terlalu cepat untuk dinyatakan disebabkan oleh pewarisan sifat dari orang tua atau ras tertentu.

Di pertengahan abad 20, para psikolog juga mencoba menggunakan tes IQ untuk mengukur hal-hal diluat kecerdasan umum. Diantaranya adalah skizofrenia, depresi, dan kondisi psikis lainnya.

Pengujian ini bergantung pada keputusan klinis dari para penguji, dengan mempertimbangkan data yang diperoleh dari tes IQ. Penelitian ini menunjukkan bahwa tes IQ tidak memberikan informasi penting di ranah klinis.

Pandangan Tentang Tes IQ di Masa Sekarang

Anak Belajar

Hari ini, tes IQ masih menggunakan elemen-elemen dan pola-pola soal yang sama dengan tes IQ dimasa awal kemunculannya. Namun, sekarang kita memiliki cara-cara yang lebih baik untuk menentukan kemungkinan bias dari tesnya. Mereka tidak lagi digunakan untuk menguji kondisi psikis.

Banyak psikolog di seluruh dunia masih menggunakan tes IQ untuk menentukan ketidakmampuan kecerdasan, dan hasilnya digunakan untuk menentukan dukungan akademis, pelatihan kerja, dan konsultasi tentang hidup.

Dalam sejarah kelamnya, hasil tes IQ sudah pernah dipakai untuk membuat aturan hukum yang cacat dan ideologi yang tidak saintifik. Ini tidak berarti bahwa tesnya sendiri tidak berguna sama sekali. Faktanya, tes ini sangat berguna untuk mengukur penalaran dan kemampuan problem-solving, seperti bagaimana seharusnya tes ini digunakan. Namun, tidak untuk menentukan potensi seseorang.

Walaupun banyak sekali hal rumit berkaitan dengan politik, sejarah, sains, dan budaya yang terjadi pada tes IQ, makin banyak peneliti yang setuju bahwa manusia tidak bisa dikelompokkan hanya dengan satu nilai angka.

Bicara tentang praktik tes yang rancu, apakah kita harus meninggalkan segala sistem tes yang kaku dan terstandarisasi? Berikan komentarmu di bawah, ya!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Andre Kurniawan

Comments

Loading…

0

Comments

0 comments

Berolahraga Saat Puassa

Tips Berolahraga Saat Puasa Ramadhan

Illuminati

Apakah Illuminati Benar-Benar Ada?